Ayo Bangkit Atletku!

Gemerlap Olimpiade (musim panas) Beijing 2008 sudah berakhir. Api olimpiade juga sudah dipadamkan. Olimpiade yang disinyalir menjadi olimpiade termegah abad ini akan berlanjut di London tahun 2012 mendatang. Ada bahagia, ada duka. Ada lara, ada tawa. Perasaan bahagia pasti meliputi pasangan ganda putra Markis Kido – Hendra Setiawan yang berhasil menyumbangkan satu-satunya medali emas bagi kontingen Indonesia. Medali emas yang tidak hanya menjaga tradisi medali emas olimpiade tetapi ini menjadi pembuktian bagi pasangan nomor satu dunia ini. Bagi Markis Kido, medali emas ini menjadi kado istiwewa bagi almarhum ayahandanya yang berpulang ke rahmatullah saat mereka akan berlaga di ajang Piala Thomas. Pun keberhasilan ini menjadi lebih indah ketika mereka berhasil menundukkan andalan tuan rumah di babak final, saat bagi bangsa Indonesia merayakan 63 tahun kemerdekaannya.

Kebahagiaan juga masih dirasakan oleh Maria Kristin Yulianti. Capaian luar biasa diraih oleh pebulutangkis putri kita tersebut walau hanya merebut medali perunggu. Ditargetkan lolos babak 16 besar saja, namun ia mampu membuat harapan bulutangkis di sektor putri sepeninggal Susi Susanti dan Mia Audina kembali cerah di masa mendatang, karena keberhasilannya akan memotivasi para pebulutangkis putri kita untuk menembus dominasi pebulutangkis China dan Korea, yang selama ini selalu terpuruk bahkan melawan pebulutangkis putri Malaysia pun kita kewalahan.

Duka dan penyesalan bisa jadi masih menghinggapi pasangan ganda campuran kita Vita Marissa/Flandi Limpele, setelah mereka gagal di dua pertandingan terakhir yaitu di babak semifinal dan perebutan mendali perunggu dengan kisah yang hampir sama yaitu kehilangan konsentrasi di set ketiga setelah poin melewati 11. Penampilan antiklimaks justru diperagakan oleh pasangan ganda campuran nomor satu dunia Lilyana Natsir/Nova Widiyanto, setelah melaju dengan meyakinkan di babak babak sebelumnya mereka tampil grogi di babak final sehingga ditumbangkan dengan mudah oleh pasangan tuan rumah. Demikian juga penampilan kurang meyakinkan dari sektor tunggal putra dan ganda putri, Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro dan Vita/Natsir masih kesulitan menembus dominasi atlit China dan Malaysia.

Akhir indah bagi olahraga tepok bulu, tidak diikuti oleh cabang olahraga lainnya . Walaupun, cabang angkat besi berhasil merebut dua medali perunggu melalui Eko Yuli Irawan dan Triyatno namun mereka gagal mempertahankan capaian medali perak di olimpiade sebelumnya. Jangan tanyakan hasil dari cabang yang lain seperti atlit. Sudah dapat ditebak keikutsertaan mereka lebih dari menambah jam terbang. Oka Sulaksana, sudah termakan usia untuk bertanding di cabang perahu layar. Harapan Indonesia, di cabang panahan masih gagal mengulangi kenangan indah di Olimpiade Seoul 1988.

Apapun hasil yang dicapai oleh mereka sudah sepantasnya kita mengucapkan terima kasih atas dedikasi mereka selama ini dan dukungan semua pihak sangat dibutuhkan mereka demi mengharumkan bangsa Indonesia di level internasional. Dan kepada semua pihak seperti pemain, pelatih, pengurus induk dan cabang olahraga terutama Kementerian Pemuda dan Olah raga serta Komite Olah raga Nasional Indonesia (KONI) momen dan hasil olimpiade Beijing 2008 dijadikan evaluasi untuk capaian prestasi di masa mendatang yang lebih baik dengan perencanaan yang lebih matang. Ayo bangkit atletku, ayo bangkit pahlawanku..ayo bangkit negeriku !!!

Advertisements