Kenangan pada sebuah Tanjakan

Tepat di depan rumah kami, terdapat tanjakan yang cukup terjal untuk dilewati. Tanjakan itu harus dilewati warga kampung sekitar kami dan orang orang yang ingin beraktivas menuju pasar, sekolahan, stasiun, terminal, tempat perbelanjaan, kantor pemerintahan dan sebagainya di daerah kami. Jalan raya yang ada tanjakannya itu merupakan salah satu akses menuju kota. Jadi, hampir ribuan orang yang berlalu lalang melewati tanjakan itu setiap harinya.

Tidak jarang ketika melewati tanjakan tersebut terjadi kecelakaan. Selain karena volume pengguna jalan raya (baca tanjakan) yang cukup padat terutama pagi hari ketika orang orang sedang berpacu dengan waktu untuk segera beraktivitas dan sore hari ketika orang orang bergegas pulang menuju rumah masing masing. Ditambah lagi kondisi tanjakan atau turunan dari arah sebaliknya yang tidak rata dan kurangnya penerangan ketika malam.

Bagi sebagian besar orang tanjakan itu mungkin agak merepotkan karena harus mengeluarkan banyak tenaga untuk melewatinya. Namun bagi orang sekitar tanjakan itu termasuk keluarga kami tanjakan itu menjadi ladang amal. Kenapa demikian? Selain bisa menolong orang apabila terjadi kecelakaan tanjakan itu (maaf bukan kami mendoakan agar banyak kecelakaan), sering teras rumah kami menjadi tempat istirahat orang-orang yang kelelahan melewati tanjakan itu.

Mungkin yang paling tersiksa ketika melewati tanjakan itu adalah para tukang becak yang mengangkut penumpang atau barang yang cukup banyak, kuli angkut atau orang yang akan menjual bambu atau mengangkut pasir dan batu bata dengan gerobak. Mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa melewati tanjakan itu dengan muatan yang sangat banyak. Maklum semakin banyak yang diangkut tentunya pendapatan yang bisa dibawa pulang juga lebih besar. Saya dan kakak saya merasa kasihan dan tidak tega melihat mereka yang harus susah payah melewati tanjakan itu. Maka kesempatan untuk membantu mereka dengan mendorong becak atau gerobak jarang kami lewatkan. Tapi kesigapan saya tidak seberapa bila di banding kakak saya. Dia sudah bersiap siap menunggu apabila dari kejauhan sudah melihat orang, atau gerobak yang akan melewati tanjakan itu. Ada rasa kepuasan tersendiri apabila bisa membantu orang orang tersebut. Rasa puas semakin bertambah ketika melihat senyum gembira sekaligus ucapan terima kasih dari orang yang kami bantu.

Sekarang kebiasaan baik itu jarang kami lakukan karena saya harus hijrah mengadu nasib di Jakarta. Selain itu hampir tiap tahun selama sepuluh tahun belakangan ini tanjakan itu mengalami perbaikan dan peninggian. Jadi sekarang tanjakan di depan rumah kami sudah hampir rata, belum lagi jalan raya di desa kami sudah menggunakan aspal hot mix. Gerobak pembawa bambu, pembawa batu bata atau pasir sudah tidak keliatan kepayahan ketika melewati tanjakan di depan rumah kami. Bahkan para tukang tukang becak tidak perlu lagi turun dari becaknya ketika melewati tanjakan itu.

Entah apa yang ada di benak kakak saya, sehingga dia begitu bersemangat membantu orang yang kepayahan melewati tanjakan tersebut. Bayangkan saja, jangankan orang yang ditolong pernah berbuat baik kepadanya bahkan dia tidak mengenal orang yang ditolongnya. Mungkin dia sedang mengamalkan ayat al quran, Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Bisa jadi dia sudah paham hadits yang mengingatkan bahwa barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari orang (muslim) maka Allah membalasnya dengan menghilangkan daripadanya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan yang ada pada hari kiamat. Jadi bersegeralah berbuat baik, selama kesempatan itu masih ada.