Sedekah Maut..

Rasanya tidak ada kata yang bisa melukiskan kepedihan dengan tragedi “Sedekah Maut” di Pasuruhan. Seyogyanya pemerintah bisa mengambil hikmah dan mengambil tindakan nyata atas musibah tersebut. Sebenarnya musibah-musibah sejenis bisa dihindarkan seandainya sebelum melakukan segala sesuatu  direncanakan dengan matang. Tapi, yang jelas akar masalahnya tetap satu …. KEMISKINAN. FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR ITU HARUS DISELAMATKAN PEMERINTAHAN bukan dipelihara..!!! Pantas saja mereka tetap jadi kaum marginal, lah wong pemerintah menjadikan KEMISKINAN asset dan dagangan politik semata. Seperti kalau sudah tidak ada kemiskinan para politikus binggung apa yang akan menjadi program dan janji muluk menjelang pemilihan.

Nasihat Para Mayat

Entah apa yang ada dalam pikiran para mayat yang sedang beristirahat minggu pagi itu di Taman Pekuburan Umum Utan Kayu atau yang lebih dikenal orang dengan sebutan TPU Kemiri Sunan Giri karena memang letaknya bersebelahan dengan Pasar Sunan Giri.

Andaikan mereka bisa keluar sejenak dari kehidupan alam barzah yang sedang mereka jalani, pastilah mereka akan menasihati seorang ibu itu. Ingin rasanya mereka berbagi tentang bagaimana dahsyatnya siksa kubur. Atau mereka akan mencaci maki dengan nada kemarahan karena kehadirannya di pagi itu membuat penyesalan mereka makin meraja. Penyesalan yang tidak terhingga mengapa sewaktu di dunia mereka menyia-nyiakan waktu yang ada tenggelam oleh pesona tipuan dunia dan memperturutkan hawa nafsunya. “Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman”.1

Bahkan ketika ibu pertama kali menginjakkan kaki di areal pemakaman, mayat yang pertama kali melihat kedatangannya sudah mengingatkan dengan lembut, “Nak, apakah kau tidak sadar hidupmu di dunia tidaklah seberapa lama bila dibandingkan dengan kehidupan ini. Kami yang baru kemarin berbaring saja sudah tidak tahan akan bencana ini. Ingin rasanya segera saja hari pembalasan itu datang. Karena sudah nampak di depan kami siksaan itu. Pun, kami yng sudah mencium bau surga ingin segera kesana. Setiap pagi dan petang ditampakkan kepada kami tempat apa yang akan kami tempati nanti sesudah Tuhan membangkitkan kami pada hari Kiamat.”2

“Apakah tidak ada yang menyampaikan peringatan itu kepadamu nak?”, mayat yang lain menyelak.

“Atau mungkin hatimu yang sudah mengeras bagai batu tidak menghiraukan peringatan-peringatan itu dan menganggapnya bagaikan angin lalu saja.”

Di sisi lain areal pemakaman, terdengar kerumuman para mayat berdiskusi seharusnya para aktivis feminisme seperti Ratna Sarumpaet, Rieke Diah Pitaloka dan lainnya segera meneriaki perempuan itu sebagai ungkapan protes karena telah menurunkan martabat kaum wanita.

“Engkau datang ke sini karena memang engkau tahu ziarah kubur akan mengingatkan kita kepada akhirat. Dan doamu yang ikhlas memang sudah dirindukan oleh orang tuamu agar bisa menerangi kuburnya dan sebagai bukti baktimu kepada orang tuamu,” terdengar lirih menyeruak diantara diskusi para mayat tersebut. “Beruntungnya orang tuamu Nak, karena mempunyai satu dari tiga amal yang tidak pernah putus walau mereka telah wafat yaitu engkau yang mau mendoakannya,3 akan tetapi pakaianmu Nak, …. pakaianmu!,” ia menegaskan.

Kisah di atas adalah kisah fiksi yang di ambil dari kejadian nyata pada suatu minggu pagi tatkala tentang seorang ibu dan suaminya yang sedang berziarah kubur.

1 QS Asy Syu’ara (26:102).. “Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman”.

2 Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasululloh bersabda, “Sesungguhnya apabila seseorang meninggal dunia, maka setiap pagi dan petang ditampakkan kepadanya tempatnya nanti. Jika dia termasuk penghuni surga, maka disediakan tempat dari surga. Dan, jika dia tergolong penghuni neraka, maka disediakan tempat dari neraka. Dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempatmu sampai Allah membangkitkanmu pada hari Kiamat.’” Hadits Riwayat Muslim.

3 Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu shodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkan untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya. Hadits Riwayat Muslim.