Antara Jakarta dan Gaza

Kalau kita cermati dalam beberapa hari belakangan ini ada persamaan antara JAKARTA dan GAZA? WHAT? Jangan gila dong loe ‘liq..!!

Iyha benar, dibilangin nga percaya. Sekarang saya buktikan..

JAKARTA tiap hari di beri hujan oleh-NYA tiada henti.
GAZA tiap saat dihujani rudal, mortil dan bom oleh Zionis Israel..
(Kesimpulan JAKARTA dan GAZA sama sama diberi HUJAN)

Bagi yang tinggal di JAKARTA dan rumahnya tidak mempunyai pemanas ruangan atau yang berangkat beraktivitas kehujanan pasti KEDINGINAN.
Sekarang Saudara kita di GAZA juga kedinginan, kedinginan karena rumahnya diluluh lantakkan dan supplai bahan makanan dihambat oleh Zionis.
(Kesimpulannya orang yang tinggal di JAKARTA dan GAZA sebagian besar merasakan KEDINGINAN)

Perencanaan kota yang buruk menyebabkan potensi KEBANJIRAN di JAKARTA tinggal menunggu waktu.
Pun, demikian di GAZA, tiap hari KEBANJIRAN air mata dan simpati dari warga dunia karena dampak kerusakan yang yang ditimbulkan oleh kekejaman Zionis
(Kesimpulannya kedua kota itu sama sama KEBANJIRAN)

Genangan air hujan dan tidak berfungsinya lampu lalu lintas ditambah buruknya sikap pemakai jalan raya menyebabkan KEMACETAN yang luar biasa di seantero JAKARTA.
KEMACETAN juga biasa dialami oleh para pengemudi truk truk pembawa bantuan kemanusiaan, karena jalur ke GAZA dihambat oleh Zionis dan kroni-kroninya.
(Tambah satu lagi, sama sama terjebak KEMACETAN)

Seandainya keadaan ini tidak segera teratasi maka kedua kota tersebut sama sama mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar.

Hasil googling Jakarta kebanjiran ..
hasil googling Jakarta kebanjiran ..
didedikasikan buat saudara saudariku di GAZA dan semua sahaja yang menderita dan membenci kekejian Zionis Israel..
Advertisements

Talik Telah Tiada

Yang benar? Kapan? Ko masih bisa posting notes..Atau yang nulis notes ini teman dekat atau sahabatnya Talik yang tahu email account dan password WP Talik.

Benar ko, Talik sudah meninggal hari Kamis kemaren tanggal 25 Desember 2008. Tapi bukan Talik a.k.a thalique S Susanto.Terus yang meninggal Talik yang mana? Yang meninggal yaitu talik yang lain, klik aja di sini.

Dia, adalah salah satu penyebab aku merubah nama dalam FS dan FB menjadi thalique. Padahal sebenarnya ayahku menamakan aku dengan Talik. Tapi, setelah ku tahu ada Talik lain di Indonesia dan ternyata dia lebih tua maka kurubah settingan FS dan WP ku jadi thalique.Dia masih muda loh, dokter pula.

Kawan, ternyata mati atau meninggal tidak mengenal muda atau tua, tidak mengenal lelaki perempuan, kaya atau miskin. Yang jelas seperti yang Alloh firmankan dalam Al Qur’an QS Ali Imran (3:185) bahwa .. “setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.” Dan, setiap kita tidak tahu kapan kematian akan datang. Apabila Alloh telah mengutus malaikat Idzroil untuk menjemput ajal kita maka tidak ada satu pun yang dapat menghindarinya walau hanya sesaat.Pun, kita tidak bisa mendahulukannya. “Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. 16:61).

Kawan, perbanyaklah mengingat kematian seperti nasihat Rasulullah, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi). Salah satu hikmah kita mengingat kematian yang datangnya tidak bisa kita prediksi sebelumnya maka kita akan selalu menghargai betapa bernilainya waktu yang sekarang kita miliki, sehingga kita selalu akan mengisinya dengan hal-hal yang diridloi-Nya. Takut andaikan maut menjemput kita sedang bermaksiat kepada-Nya.

Oleh karena itu kawan, saat kesempatan itu masih ada pergunakanlah waktu kita dengan sebaik-baiknya.

Musabaqoh Tilawatil Quran – (didedikasikan untuk Herdi Yuliarohmana)

Indonesia, negara dengan mayoritas muslim boleh berbangga karena memiliki qari dan qariah bertaraf internasional. Qari dan qariah adalah julukan bagi para pembaca Al Quran, khususnya bagi yang sering mengikuti perlombaan membaca Al Quran. Nama-nama seperti Hj. Maria Ulfah dan Muammar ZA, adalah satu qari dan qariah terkenal di Indonesia. Maklum di Indonesia perlombaan membaca Al Quran atau yang lebih dikenal dengan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) rutin diselenggarakan.

Dulu waktu jaman orde baru kegiatan ini selain menjadi ajang pemerintah selain itu juga MTQ dijadikan sarana safari politik yang efektif bagi penguasa. Begitu kata sebagian orang, tapi saya sedang tidak ingin berbicara tentang politik yang akar katanya polite yang berarti bijaksana tapi kelakukan para politikusnya sangat tidak bijaksana.

Bila mendengar kata MTQ, ingatan saya sering tertuju salah satu teman saya di SMU yaitu Herdi Yuliarohmana, yang lebih kami kenal dengan sebutuan Eeng. Dia pernah bercerita sewaktu SD atau SMP (persisnya saya lupa) pernah mewakili kontingen Pertamina unit Cilacap untuk perlombaan MTQ antar BUMN Pertamina di Semarang (ech waktu itu dah jadi BUMN atau belum yah?). Tentu saja, setelah dia mengalahkan para kontestan di daerahnya.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan si Eeng, maklum memang suara dia agak merdu, halus, dan agak melakolis. Jadi, wajar saja kalau membaca Al Quran dengan lagu tidak mudah baginya. Ditambah lagi, dia suka menyanyi. Namun, ada satu yang sampai saat ini masih kuingat, ketika dia menceritakan tentang lomba itu ternyata dia itu belum bisa membaca Al Quran. Hah..? Kok bisa…? Bagaimana mungkin, orang belum bisa membaca Al Quran mengikuti MTQ. Usut punya usut ternyata dia hanya menghafal saja ayat Al Quran yang dilombakan dalam MTQ tersebut. Dia menirukan saja bagaimana ketika guru mengajinya membaca dan melagukan Al Quran tersebut. Dan, dia minta sang guru mengulang-ulang ayat yang diperlombakan sampai benar-benar dia hafal bacaan ayat tersebut. Untungnya, surat apa yang akan dibaca nanti sewaktu perlombaan sudah diberitahukan terlebih dahulu. Jadi, para peserta MTQ bisa mempersiapkan terlebih dahulu.

Entah benar atau hanya bualan cerita temanku itu. Tapi hanya satu yang paling benar, bahwa mempelajari Al Quran sangatlah mudah. Mungkin kita berpikir mudahnya mempelajari Al Quran hanya untuk orang keturunan Timur Tengah yang mempunyai logat bahasa Arab (Arabic)2. Maklum saja, Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab dan bertulisan huruf Hijaiyyah. Jadi, kita beranggapan kita yang sudah terbiasa membaca huruf Latin akan sedikit mengalami kesukaran ketika mempelajarinya. Tetapi, faktanya tidak demikian.

Berbeda dengan bahasa lain di dunia, Al Quran bisa dilafalkan dengan fasih oleh bangsa manapun. Bahkan, seandainya para orang yang fasih tersebut membaca Al Quran dibalik tembok dan kita mendengarkannya tanpa melihat siapa yang membacanya atau kita mendengarkannya dengan mata tertutup, sangat sulit kita menerka dari mana dia berasal, karena bagi yang fasih sangat memungkinkan meniru persis seperti orang Arab membacanya. Berbeda dengan bahasa China, Russia, Jepang atau Malaysia yang serumpun dengan kita. Begitu mendengar mereka berbicara atau membaca kita akan mudah menebak dari mana dia berasal. Pun, bagi kita yang belajar bahasa mereka akan kesulitan berbicara sefasih bahasa aslinya.

Kemudahan mempelajari Al Quran ditegaskan oleh Alloh swt dalam firman-Nya paling tidak sebanyak enam kali3. Bahkan, Alloh swt mengulanginya sebanyak empat kali4 dengan redaksi yang sama. Ini membuktikan bahwa mempelajari Al Quran sangatlah mudah bagi siapapun. Maka, tidaklah mengherankan bila seperti Imam Syafi’i yang baru berusia 7 tahun sudah hafal 30 jus Al Quran. Bukti lain yang lebih menggagumkan Ibu Wirianingsih, ibu sebelas anak yang mengantarkan tiga anaknya yang juga hafal 30 jus Al Quran.

Contoh nyata tentang mudahkan mudahkan Al Quran ada pada Ibu Nuraini Baraja (59 tahun) yang sudah hafal 30 jus Al Quran, meski memulai menghafal di usia 54 tahun. Jadi, tidak ada kata sulit dan terlambat dalam mempelajari Al Quran. Yang perlu kita singkirkan jauh-jauh adalah perasaan takut bahwa mempelajari Al Quran itu sulit. Malu rasanya bila kita, anak kita dan keluarga kita tidak bisa membaca AL Quran. Kita berharap bahwa negara kita bukan hanya bebas 3 buta yaitu buta huruf, buta angka dan buta aksara tapi juga bebas buta baca Al Quran.

1. Klik aja disini untuk mengetahui tentang sejarah MTQ

2. Kita mengenal ada 4 corak besar logak di dunia ini yaitu Arabic, Teutonis Slavonic dan Emphires. Penjelasan lebih lanjut mengenai mother of tongues atau first language, Insyaalloh di edisi mendatang.

3. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (QS Maryam (19) : 97). Di ayat yang lain Alloh swt berfirman, “Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” (QS Ad Dukhaan (44) : 58)

4. Alloh swt mengulangi 4 kali surah Al Qomar (17) ayat 17; 22; 32 dan 40 yang artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”