Indonesia, negara dengan mayoritas muslim boleh berbangga karena memiliki qari dan qariah bertaraf internasional. Qari dan qariah adalah julukan bagi para pembaca Al Quran, khususnya bagi yang sering mengikuti perlombaan membaca Al Quran. Nama-nama seperti Hj. Maria Ulfah dan Muammar ZA, adalah satu qari dan qariah terkenal di Indonesia. Maklum di Indonesia perlombaan membaca Al Quran atau yang lebih dikenal dengan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) rutin diselenggarakan.
Dulu waktu jaman orde baru kegiatan ini selain menjadi ajang pemerintah selain itu juga MTQ dijadikan sarana safari politik yang efektif bagi penguasa. Begitu kata sebagian orang, tapi saya sedang tidak ingin berbicara tentang politik yang akar katanya polite yang berarti bijaksana tapi kelakukan para politikusnya sangat tidak bijaksana.
Bila mendengar kata MTQ, ingatan saya sering tertuju salah satu teman saya di SMU yaitu Herdi Yuliarohmana, yang lebih kami kenal dengan sebutuan Eeng. Dia pernah bercerita sewaktu SD atau SMP (persisnya saya lupa) pernah mewakili kontingen Pertamina unit Cilacap untuk perlombaan MTQ antar BUMN Pertamina di Semarang (ech waktu itu dah jadi BUMN atau belum yah?). Tentu saja, setelah dia mengalahkan para kontestan di daerahnya.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan si Eeng, maklum memang suara dia agak merdu, halus, dan agak melakolis. Jadi, wajar saja kalau membaca Al Quran dengan lagu tidak mudah baginya. Ditambah lagi, dia suka menyanyi. Namun, ada satu yang sampai saat ini masih kuingat, ketika dia menceritakan tentang lomba itu ternyata dia itu belum bisa membaca Al Quran. Hah..? Kok bisa…? Bagaimana mungkin, orang belum bisa membaca Al Quran mengikuti MTQ. Usut punya usut ternyata dia hanya menghafal saja ayat Al Quran yang dilombakan dalam MTQ tersebut. Dia menirukan saja bagaimana ketika guru mengajinya membaca dan melagukan Al Quran tersebut. Dan, dia minta sang guru mengulang-ulang ayat yang diperlombakan sampai benar-benar dia hafal bacaan ayat tersebut. Untungnya, surat apa yang akan dibaca nanti sewaktu perlombaan sudah diberitahukan terlebih dahulu. Jadi, para peserta MTQ bisa mempersiapkan terlebih dahulu.
Entah benar atau hanya bualan cerita temanku itu. Tapi hanya satu yang paling benar, bahwa mempelajari Al Quran sangatlah mudah. Mungkin kita berpikir mudahnya mempelajari Al Quran hanya untuk orang keturunan Timur Tengah yang mempunyai logat bahasa Arab (Arabic)2. Maklum saja, Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab dan bertulisan huruf Hijaiyyah. Jadi, kita beranggapan kita yang sudah terbiasa membaca huruf Latin akan sedikit mengalami kesukaran ketika mempelajarinya. Tetapi, faktanya tidak demikian.
Berbeda dengan bahasa lain di dunia, Al Quran bisa dilafalkan dengan fasih oleh bangsa manapun. Bahkan, seandainya para orang yang fasih tersebut membaca Al Quran dibalik tembok dan kita mendengarkannya tanpa melihat siapa yang membacanya atau kita mendengarkannya dengan mata tertutup, sangat sulit kita menerka dari mana dia berasal, karena bagi yang fasih sangat memungkinkan meniru persis seperti orang Arab membacanya. Berbeda dengan bahasa China, Russia, Jepang atau Malaysia yang serumpun dengan kita. Begitu mendengar mereka berbicara atau membaca kita akan mudah menebak dari mana dia berasal. Pun, bagi kita yang belajar bahasa mereka akan kesulitan berbicara sefasih bahasa aslinya.
Kemudahan mempelajari Al Quran ditegaskan oleh Alloh swt dalam firman-Nya paling tidak sebanyak enam kali3. Bahkan, Alloh swt mengulanginya sebanyak empat kali4 dengan redaksi yang sama. Ini membuktikan bahwa mempelajari Al Quran sangatlah mudah bagi siapapun. Maka, tidaklah mengherankan bila seperti Imam Syafi’i yang baru berusia 7 tahun sudah hafal 30 jus Al Quran. Bukti lain yang lebih menggagumkan Ibu Wirianingsih, ibu sebelas anak yang mengantarkan tiga anaknya yang juga hafal 30 jus Al Quran.
Contoh nyata tentang mudahkan mudahkan Al Quran ada pada Ibu Nuraini Baraja (59 tahun) yang sudah hafal 30 jus Al Quran, meski memulai menghafal di usia 54 tahun. Jadi, tidak ada kata sulit dan terlambat dalam mempelajari Al Quran. Yang perlu kita singkirkan jauh-jauh adalah perasaan takut bahwa mempelajari Al Quran itu sulit. Malu rasanya bila kita, anak kita dan keluarga kita tidak bisa membaca AL Quran. Kita berharap bahwa negara kita bukan hanya bebas 3 buta yaitu buta huruf, buta angka dan buta aksara tapi juga bebas buta baca Al Quran.
1. Klik aja disini untuk mengetahui tentang sejarah MTQ
2. Kita mengenal ada 4 corak besar logak di dunia ini yaitu Arabic, Teutonis Slavonic dan Emphires. Penjelasan lebih lanjut mengenai mother of tongues atau first language, Insyaalloh di edisi mendatang.
3. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (QS Maryam (19) : 97). Di ayat yang lain Alloh swt berfirman, “Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” (QS Ad Dukhaan (44) : 58)
4. Alloh swt mengulangi 4 kali surah Al Qomar (17) ayat 17; 22; 32 dan 40 yang artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”